A New Life: Marriage, Pregnancy, and Motherhood

Hari ini, tepat setahun setelah saya terakhir posting di blog ini. Setahun rasanya cukup yah untuk absen tidak menulis santai di sini. Lebih dari cukup malah. Banyak, bahkan terlalu banyak hal yang terjadi pada saya selama setahun belakangan ini. Tepatnya hal-hal besar. Yakni marriage, pregnancy, dan motherhood seperti yang saya tulis di bagian judul.

Selepas April 2015 lalu, saya betul-betul disibukkan dengan persiapan pernikahan yang Alhamdulillah telah terlaksana pada 10 Mei 2015. Cukup menguras tenaga dan emosi sebetulnya. Tapi, ya, itulah persiapan pernikahan. Detail soal persiapan pernikahan akan saya ceritakan di post lain.

Tidak lama setelah menikah, tepatnya pada Juni 2015, saya dinyatakan hamil. Bukan oleh dokter, tapi oleh tiga test pack berbeda yang kesemuanya kompakan menunjukan dua garis. Kala itu, test pack memang jadi satu-satunya cara untuk mengetahui kehamilan saya. Maklum, saat tanda kehamilan muncul, cuti bersama sudah dimulai. Dan bisa ditebak, para dokter dan bidan sudah bersiap pulang ke kampung halaman mereka. Masa-masa kehamilan ini juga akan saya share di post lainnya. Termasuk soal dokter kandungan favorit saya yang memantau perkembangan si bayi dari awal terbentuk sampai lahir.

Sembilan bulan setelah dinyatakan hamil, akhirya si bayi pun lahir. Dan fase motherhood harus benar-benar saya jalankan. Menjadi seorang istri, istri yang sedang mengandung, hingga menjadi ibu dalam waktu kurang dari setahun cukup membuat saya kewalahan. Learning by doing mungkin cara paling tepat yang bisa saya lakukan mengingat tidak ada sekolah yang mengajarkan bagaimana menjadi seorang istri dan orang tua. Bagian menjadi orang tua baru ini juga akan saya share di post lainnya. Termasuk kebingungan saya membangun supporting system di tengah gempuran pemikiran kolot dari ibu saya.

 

 

Kisah inspiratif dari para perempuan hebat dan jurnalis tangguh yang hampir keder menyiapkan ini semua. Bon appetite.

*repath yah mas dhims* – with Diar, Nora, Dinda, Janesti, Gunawan, and Dhimas at Gateway Pesanggrahan Apartment

View on Path

Dipandang Negatif, Lici Bangga Punya Golongan Darah Langka

**Lici Murniati, Ketua Komunitas Rhesus Negatif Indonesia (RNI)

Kaum monoritas memang seolah tidak punya tempat. Mereka biasanya mendapat perlakuan yang berbeda dan tidak menyenangkan. Hal itu juga dirasakan oleh pemilik golongan darah Rhesus negatif Lici Murniati bersama teman-temannya di Komunitas Rhesus Negatif Indonesia (RNI).

ANDRA NUR OKTAVIANI

Tidak pernah sekali pun Lici meminta kepada Tuhan untuk diberikan golongan darah langka. Tapi, itulah yang diberikan Tuhan kepada Lici. Darah O Rhesus negatif mengalir di tubuhnya tanpa bisa dia tolak. Dia menganggap hal itu sebagai sebuah anugerah. Sayangnya, tidak semua orang berpendapat sama. Sebagai kaum minoritas, Lici sering mendapat perlakuan yang kurang menyenangkan.

Dia mengatakan, banyak sekali orang yang menganggap golongan darahnya yang langka itu sebagai sebuah penyakit yang harus disembuhkan. Sekali waktu dia bercerita kepada satu temannya mengenai golongan darah yang dimilikinya. Temannya itu sontak kaget dan bertanya apakah pada akhirnya golongan darah Lici bisa berubah menjadi Rhesus positif dengan nada kasihan. Padahal, Rhesus negatif bukan sesuatu yang salah, bukan juga sebuah kutukan yang harus dipatahkan.

”Saya sampai capek menjelaskan kalau itu bukan penyakit. Saya hanya memiliki golongan darah yang berbeda dari yang lain. Secara fisik tidak ada yang berbeda,” tuturnya kepada Jawa Pos dengan nada sedikit kesal saat ditemui di Poins Lebak Bulus, Jumat (5/10).

Lici selalu berusaha memaklumi pandangan orang tentang golongan darahnya. Dia sangat mengerti banyak sekali orang yang tidak tahu mengenai Rhesus negatif. Di Indonesia, banyak orang tidak terlalu peduli dengan golongan darah mereka. Golongan A, B, AB, atau O saja tidak terlalu dipedulikan orang kecuali saat mereka membutuhkan, apalagi mengenai golongan Rhesus-nya.

Dengan mindset yang seperti itu, Lici tidak banyak berharap orang-orang akan mengerti sepenuhnya apa itu Rhesus negatif. Satu hal yang dia harapkan adalah awareness orang akan adanya golongan tersebut. Namun, hingga kini, harapan Lici sepertinya belum bisa terwujud. Menurutnya, kesadaran orang-orang mengenai eksistensi orang-orang bergolongan darah Rhesus negatif masih sangat rendah. Lici mengatakan mereka butuh pengetahuan.

Lici pun mengakui, sama seperti kebanyakan orang, dia tidak terlalu peduli dengan golongan darah Rhesus negatif. Hasil pemeriksaan golongan darahnya yang menyatakan dia memiliki golongan darah O Rhesus positif bukan suatu hal yang aneh. Selama bertahun-tahun dia hidup dengan golongan darah O Rhesus positif dalam benaknya.

Menurutnya, para petugas biasanya mengeneralisir Rhesus seseorang. Karena kebanyakan orang Indonesia memiliki Rhesus positif, golongan Rhesus Lici pun ”dibuat” positif oleh petugas yang memeriksa golongan darahnya. Bagi Lici, kala itu, Rhesus bukan hal krusial. Pikiran itu terus ada dalam benak Lici sampai buah hatinya lahir 13 tahun lalu. Kejadian itu mengubah pandangan Lici. Bayangan kejadian 13 tahun lalu kembali bekelebat dalam benaknya.

Saat itu dokter memanggil Lici. Dia mengatakan, anak perempuan yang baru dilahirkan Lici punya golongan darah Rhesus negatif. Kebetulan, di rumas sakit ada pemeriksaan Rhesus untuk bayi-bayi yang abru dilahirkan. ”Saat itu saya ketakutan karena itu golongan darah langka. Hah? Kok bisa? Saat itu kan saya masih berpikir golongan darah saya Rhesus positif. Keluarga pun semua positif,” ceritanya.

Ketakutan Lici terus menghantui. Berbeda dengan zaman dulu, anak-anak zaman sekarang rentan sekali masuk rumah sakit. Lici mengatakan, sekarang ini sedikit-sedikit dokter langsung memvonis demam berdarah dan harus transfusi darah. Itu yang sangat ditakutkan oleh Lici. Kemana dia harus mencari darah langka jika suatu hari anaknya membutuhkan menjadi pertanyaan yang ada dalam benaknya kala itu.

Dia pun kemudian mulai mencari komunitas golongan darah langka itu. Tapi usahanya itu tidak kunjung membuahkan hasil. Dia harus gigit jari karena tidak ada satu pun komunitas terpercaya yang bisa membantu permasalahannya. Pernah suatu ketika dia sedikit frustasi dan terus membisikkan pada anaknya jika sudah besar nanti sebaiknya ikut tinggal bersama kakak Lici di Amerika. Di sana, golongan darah Rhesus negatif tidak sulit ditemukan. ”Itu terus mengganggu pikiran saya selama 10 tahun lebih. Nyaris 11 tahun. Saya worry sekali,” ungkapnya.

Pada 2011, Lici harus menjalani operasi. Saat itu, dokter memintanya untuk melakukan tes darah ulang. Hasilnya cukup mengejutkan. Sokter mengatakan, Lici memiliki golongan darah Rhesus negatif. Namun, itu belum berhasil membuat Lici yakin sepenuhnya. Bagaimana bisa golongan darah Rhesus seseorang bisa berubah, pikir Lici.

Dia pun tidak terlalu memedulikan hal itu sampai akhirnya dia melakukan donor darah untuk pertama kalinya. PMI tempat dia mendonorkan darah menghubunginya. Dengan sedikit ketakutan, Lici menjawab telepon tersebut. Pihak PMI mengatakan, berdasarkan hasil pemeriksaan, Lici memiliki golongan darah Rhesus negatif. Sejak itu, lici baru yakin jika golongan darahnya memang benar Rhesus negatif.

”Jadi, sebenarnya saya tahu anak saya Rhesus negatif dulu. Saya baru tahu kalau saya juga ternyata Rheses negatif itu jauh setelah itu,” ucap dia.

Semesta sepertinya mendukung usaha Lici untuk menemukan komunitas Rhesus negatif. Tiga bulan setelah dia tahu dirinya punya golongan darah Rhesus negatif, PMI mengenalkannya kepada komunitas golongan darah Rhesus negatif, yakni Rhesus Negatif Indonesia. Dari situ, dia mulai giat berkecimpung di komunitas.

Rhesus negatif memang membutuhkan perhatian ekstra dan tidak bisa di-treatment sembarangan. Perlakuan yang salah pada darah golongan tersebut punya dampak yang buruk bagi tubuh. Golongan darah Rhesus negatif hanya bisa menerima darah dari golongan darah Rhesus negatif. ”Darah bergolongan Rhesus positif yang masuk ke tubuh kami berpotensi menimbulkan alergi. Dalam jumlah yang banyak malah bisa merusak organ. Di sisi lain, yang memiliki golongan darah itu sedikit sekali,” jelas perempuan kelahiran Jakarta, 23 September itu.

Sama seperti mayarakat Indonesia lainnya, para pemilik golongan darah Rhesus negatif itu juga butuh perhatian pemerintah. Terlebih karena golongan darah mereka langka. Namun, hal itu sepertinya masih di angan-angan. Lici menuturkan, selama ini perhatian pemerintah sangat kurang sampai dia harus bekerja bersama para sukarelawan di komunitas RNI. Para pemilik golongan darah Rhesus positif bisa dengan mudah mendapatkan darah dari PMI. Para pemilik golongan darah Rhesus negatif sebaliknya. Menurut Lici, PMI pun seolah menutup mata soal itu.

Dia mengatakan, pemilik golongan darah itu memang minoritas, namun bukan berarti mereka tidak ada. Jumlahnya di Indonesia malah semakin banyak. Mengenai hal itu, Lici mengaku sudah berkali-kali bertemu denbgan para pemangku kebijakan. Mereka memang mengakui golongan darah itu luput dari perhatian mereka. Tapi sekadar itu. Tidak ada tindak lanjut seperti yang diharapkan Lici.

”Sorry to say, kami di komunitas ini bekerja sukarela. Kami membangun komunitas ini secara swadaya untuk membantu para pemilik golongan darah Rhesus negatif. Tidak ada perhatian sama sekali dari pemerintah,” tutur perempuan yang menyukai kopi hitam tanpa gula itu. (*)

Oleh-Oleh Kelas Pagi dari Fitri Nganthi Wani

Beberapa waktu lalu, kantor mengadakan placement test untuk para reporter. Tesnya berupa pembuatan tulisan feature. Bahannya diambil dari video yang hanya ditayangkan sekali, yakni video mengenai aktivis Widji Thukul yang menghilang. Video yang ditayangkan di Metro TV itu menyuguhkan rangkuman perjalanan hidup Widji Thukul. Istrinya yang bernama Siti Dyah Sujirah dan anak sulunya Fitri Nganthi Wani jadi narasumbernya. Berikut ini hasil tulisannya.

Fitri Nganthi Wani, Putri Sulung Seniman dan Aktivis Wiji Thukul

Tuangkan Kekesalan dan Kerinduan ke Dalam Puisi

Nama Wiji Thukul mungkin sudah tidak asing. Belasan tahun hilang tidak membuat putri sulungnya Fitri Nganthi Wani berhenti merindukan ayahnya itu. Dia kemudian mencurahkan rasa kesal dan rindunya itu ke dalam puisi-puisi.

ANDRA NUR OKTAVIANI

Tidak ada yang lebih dirindukan Wani—panggilan Fitri selain ayahnya Wiji Thukul. Bagaimana tidak, dia hanya bisa merasakan kasih sayang ayahnya itu hingga usia 8 tahun. Selepas itu hingga Wani kini berusia 24 tahun, tidak pernah ada kabar mengenai keberadaan ayahnya. Genap sudah 16 tahun Thukul—sapaan Wiji Thukul hilang. Genap juga rasa rindu wani pada ayahnya.

Sambil berusaha mengingat-ngingat sosok ayahnya itu, Wani bercerita. Menurut dia, ayahnya adalah ayah yang baik. Dia mengatakan, Thukul tidak pernah marah pada dia dan adiknya Fajar Merah. Kalau pun marah, Thukul bisanya menggunakan perumpamaan. Ingatan tersebut terpatri betul dalam benak Wani. Hal itu juga yang membuatnya tidak menghiraukan apa yang dikatakan orang mengenai Thukul.

Padahal, tidak jarang teman-teman di sekolah atau di lingkungan rumahnya meledek Wani karena dia adalah anak Thukul. Beberapa orang menyamakan Thukul dengan penjahat karena dia diburu oleh negara. ”Teman-teman selalu meledek saya anak seorang buronan,” tutur dia. Tapi toh ledekan teman-temannya itu tidak pernah sedikit pun melunturkan kebaikan Thukul di mata Wani.

Ditetapkan sebagai buronan membuat Thukul harus berada jauh dari istri dan dua anaknya. Namun, rindunya pada keluarga kerap membuatnya berbuat nekat. Pernah sekali waktu ayahnya itu sedang rindu rumah setengah mati. Thukul yang tengah buron memutuskan untuk kembali ke rumahnya di Solo. Thukul kembali ke rumah tanpa diketahui anak-anaknya.

Wani yang belum banyak mengerti hanya tahu kala itu rumahnya jadi selalu dalam kondisi gelap. Lampu-lampu selalu dimatikan. Bahkan salah satu kamar di rumah menjadi tidak boleh didekati Wani dan Fajar. Menurut Wani, ibunya mengatakan kamar tersebut berhantu, jadi sebaiknya Wani tidak mendekati kamar tersebut. Namun, rasa penasaran gadis cilik itu mengalahkan ketakutannya. Suatu hari, Wani nekat mengambil kursi agar bisa mengintip bagian dalam kamar dari ventilasi.

”Saya penasaran siapa yang ada di dalam kamar. Ibu sering sekali masuk ke kamar itu. Ternyata di sana ada bapak. Saya langsung teriak. Saya peluk dan cium juga karena kangen,” tutur Wani.

Setelah ditetapkan buron, kehidupan keluarga Thukul memang semakin tidak menentu. Wani yang kala itu masih berusia enam tahun harus menyaksikan keresahan ibunya Siti Dyah Sujirah. Ingatannya kembali berkelana. Kali ini ke sebuah malam saat Sipon—sapaan Dyah tiba-tiba terbangun. Wani yang sedang terlelap di samping Sipon sontak ikut terbangun. Wani mendengar ibunya beristighfar.

Sambil mengumpulkan nyawa, Wani menajamkan pendengaran. Sayup-sayup terdengar suara derap langkah. Semakin lama suara langkah tersebut semakin jelas. Bukan langkah biasa, ucap Wani. Tapi derap langkah khas sepatu tentara. ”Memang ada orang kayak datang ke depan rumah untuk lihat-lihat. Semenjak kejadian itu, ibu jadi hafal itu langkah siapa,” ungkap Wani.

Tentara memang seolah terus membuntuti Thukul. Ke mana pun dia pergi, tentara selalu terlihat mengamati dari jauh. Itu juga yang masih diingat Wani pada hari terakhir dirinya melihat sang ayah. Dia mengatakan, pertemuan terakhirnya dengan Thukul terjadi pada Desember, tepat pada bulan kelahiran si bungsu Fajar.

Yang diingat Wani saat itu dia hendak pergi ke suatu tempat dengan menggunakan kereta api. Thukul biasanya mengantarkan hingga ke dalam gerbong. Namun, saat itu entah apa yang membuat Thukul tidak mengantar sampai ke dalam gerbong. Thukul hanya mengantar sampai depan stasiun.

Suasana pun sedikit berbeda dari hari-hari biasanya. Kendati Thukul tidak bercerita, Wani tahu ayahnya itu sedang diawasi. Wani melihat sendiri beberapa tentara terus mengikuti ayahnya dari jauh. Termasuk ketika mengantarnya ke stasiun. ”Jauh di belakang bapak, ada tentara yang mengikuti. Pertemuan dengan bapak kala itu menjadi pertemuan terakhir kami,” ujarnya lirih.

Sampai sekarang, Wani masih tidak habis pikir mengapa ayahnya harus mengalami nasib yang seperti itu. Menurutnya, ayahnya hanya menuliskan curahan hati di buku diary. Namun kemudian dia harus dihilangkan karena tulisannya itu. Konyol dianggap Wani sebagai kata yang paling tepat untuk mendeskripsikan hal tersebut.

Seolah berusaha membuktikan negara telah salah menilai ayahnya, Wani melakukan hal serupa. Dia membuat diary-nya sendiri. Kekesalan dan kerinduan berpadu dalam puisi-puisi karyanya. ”Mungkin banyak yang bilang puisi saya bagus atau apa. Ini merupakan dampak yang saya rasakan karena ditinggal bapak,” katanya. Thukul memang jadi inspirasi utama Wani dalam berkarya.

Tengok saja sebuah puisi berjudul ”Dalam Keabadian, Kebenaran Membatu”. Dia menyerukan kata-kata mampu menjadi peluru yang lebih mematikan ketimbang peluru yang sebenarnya. Melalui puisinya itu juga, dia mengecam pihak-pihak yang terlibat dalam penculikan ayahnya.

Dalam sebuah bait, Wani menulis, ”Kemudian aku kau lenyapkan. Namun kata-kataku selamat. Mereka terbang keliling dunia. Membawa sukma tuan  yang melahirkannya. Merasuk pada memori anak-anak jaman
Mengeras dalam tubuh yang semakin dewasa.”

Jiwa seniman Thukul seolah merasuki Wani. Kini, puisi menjadi senjata Wani untuk menegakkan ketidakadilan. Bakat itu juga menular pada Fajar. Pemuda 21 tahun itu terampil bermain gitar. Sambil memetik gitarnya, Fajar pun memekikkan perjuangan untuk melawan ketidakadilan. Lirik-lirik lugas selugas puisi Thukul dan Wani menjadi ciri khas Fajar. (*)

Timba Ilmu di Eropa dan Amerika, Pertahankan Tradisi Cheongsam

*Michelle Worth-Kinghorn, Fashion Designer

Puguh Sujiatmiko/Jawa Pos

Puguh Sujiatmiko/Jawa Pos

Menimba ilmu di Singapura, Italia, Inggris, dan Amerika tidak membuat fashion designer Michelle Worth-Kinghorn lupa akan tradisi leluhur. Darah Chinese yang deras mengalir dalam tubuhnya membuat dia mempelajari lebih dalam mengenai tradisi cheongsam.

Tradisi itu juga yang terus ia jejalkan pada desain-desain yang dihasilkan. Latar belakang keluarganya yang berdarah Chinese dan latar belakang pendidikannya yang sangat western dia kawinkan untuk menghasilkan sebuah karya yang lain dari biasanya.

Menurut Michelle, cheongsam bukan sekadar style. Tapi sebuah cerita sejarah panjang. Dia mengenal cheongsam dari ibunda sang kakek. Selama puluhan tahun hingga meninggal, kata dia, beliau selalu mengenakan cheongsam. Ketertarikan perempuan kelahiran 8 Januari 1989 itu pada cheongsam berawal dari sana.

”It’s my heritage. Jadi akan selalu ada pada karya-karya yang aku hasilkan,” katanya kepada Jawa Pos saat ditemui di kediamannya di kawasan Kemang, Rabu (12/3).

Saat pertama kali mengenal cheongsam, tidak banyak yang dia ketahui. Seiring dengan bertambahnya usia, Michelle mulai banyak mempelajari cheongsam. Banyak hal menarik yang dia temukan saat mempelajari cheongsam. Cheongsam yang sekarang banyak dikenal orang ternyata bentuk awalnya tidak seperti itu. Dia mengatakan cheongsam awalnya merupakan baju kebesaran kekaisaran termasuk pada dinasti Qing.

Cheongsam kemudian mulai dikenakan oleh masyarakat biasa. Pada era 1920-1930-an cheongsam makin bersinar. Puncaknya terjadi pada 1950-1960-an. Menurut Michelle, cheongsam yang ada saat itu merupakan cheongsam terbaik dari segi desain. Cheongsam itulah yang menjadi inspirasi utama anak pertama dari tiga bersaudara itu.

Cerita menarik yang dia temukan seputar cheongsam kemudian dituangkan menjadi sketsa yang pada akhirnya menjadi sebuah karya pakaian yang unik. Menurut dia, desain yang dihasilkan harus selalu bisa bercerita. ”Karyaku selalu punya story behind it. Misalnya kenapa ada motifnya? Kenapa juga motifnya seperti itu? Itu harus bisa dijelaskan. Kalau tidak mengerti sejarahnya, tidak akan bisa menjelaskan,” ungkapnya.

Selain punya sejarah panjang, di mata Michelle, cheongsam punya nilai estetika yang kuat. Siluet cheongsam yang membalut tubuh dengan sempurna memberikan efek seksi pada pemakainya. Tanpa harus mengekploitasi kulit tubuh, cheongsam bisa memberikan kesan tersebut.

Kerahnya yang tinggi disebut Michelle mampu membuat leher penggunanya menjadi terlihat lebih jenjang. Belum lagi siluet yang membentuk tubuh dan menguncup di bagian kaki yang bisa memperindah bentuk kaki penggunanya. Cheongsam tradisional itu kemudian dia coba padukan dengan desain western yang lebih modern.

”Aku tetap coba memasukan unsur kerah cheongsam dan siluet. Itu dipadukan dengan desain rok ballerina atau desain bagian belakang yang sedikit terbuka. Variasinya more western,” ujar perempuan berambut panjang itu.

Michelle juga punya cerita menarik lain soal cheongsam. Saat sedang berkuliah di Milan, cheongsam yang dia kenakan sempat menarik perhatian pemain tengah AC Milan Kaka. Saat itu, Michelle baru tinggal beberapa minggu di Milan. Dia kemudian bertandang ke sebuah kelab malam bersama teman-temannya.

Tak lama, seorang laki-laki tampan yang tidak ia kenal datang menghampiri. Tanpa basa-basi, laki-laki itu menyuruhnya untuk segera pulang. Laki-laki itu berkata perempuan yang datang ke kelab tersebut biasanya agak nakal. Sementara Michelle terlihat seperti anak baik-baik dalam balutan cheongsam. Tanpa pikir panjang, istri dari lulusan Instituto Europeo di Design itu langsung pergi meninggalkan kelab tersebut.

Tidak lama, Michelle bersama teman-temannya menghadiri acara nonton bareng. Kala itu salah satu klub sepak bola kebanggaan kota Milan, AC Milan, tengah bertanding. Ketika kamera menyorot Kaka, Michelle sontak berteriak. ”Itu kan cowok yang kemarin nyuruh aku pulang dari kelab. Saat itu aku baru tahu kalau dia pemain sepak bola terkenal,” tutur Michelle sambil tertawa.

Sejak peristiwa itu, Michelle berkesimpulan cheongsam punya kesan yang bagus. Itu juga yang menjadi salah satu alasan dia untuk konsisten merancang pakaian dengan memasukan unsur-unsur tradisi cheongsam. (*)

Sajikan Hidangan First Class dengan Peralatan Seadanya

*Derry Irawan, In Flight Chef Garuda Indonesia

Derry Irawan for Jawa Pos

Derry Irawan for Jawa Pos

Menjadi chef alias juru masak di restoran atau hotel mungkin sudah biasa. Menyiapkan hidangan istimewa dengan detail pada plating juga bukan hal yang aneh. Tapi apa jadinya jika hal tersebut dilakukan di atas pesawat yang terbang pada ketinggian 41 ribu kaki?

Memasak bukan hal mudah. Apalagi kalau harus dilakukan di atas pesawat. Tapi itulah yang dilakukan In Flight Chef Garuda Indonesia Derry Irawan sehari-hari. Dia menyiapkan puluhan porsi hidangan untuk penumpang executive dan first class. Jika hal tersebut dilakukan di dapur restoran mungkin tidak akan sulit. Tapi ketika dilakukan di dapur pesawat, itu menjadi hal yang tidak mudah.

”Suasana dapurnya beda sekali. Dapurnya kecil. Peralatannya pun seadanya. Hanya oven dan microwave. Kita dituntut untuk bisa memaksimalkan itu,” katanya kepada Jawa Pos saat ditemui di kawasan Puri Indah, Minggu (30/3).

Jangan membayangkan hidangan pesawat yang hanya dipanaskan kemudian disajikan. Hidangan untuk executive dan first class jauh berbeda. Chef Derry bahkan menyebut hidangan tersebut sekelas dengan hidangan fine dining kelas hotel bintang lima. Setiap porsi disajikan secara eksklusif dengan tampilan yang menarik. Bukan satu jenis hidangan. Tapi serangkaian hidangan. Mulai dari appetizer hingga dessert.

Sekali penerbangan, penumpang biasanya dapat dua kali makan dan sekali snack. Sekali makan, Chef Derry menyiapkan setidaknya 15 porsi untuk first class dan 36 porsi untuk executive class. Menunya pun berbeda-beda. Umumnya ada tiga jenis hidangan yang ditawarkan. Yakni Indonesia, modern Europe, dan Japanese.

Selera penumpang yang berbeda mengharuskan Chef Derry untuk bisa menyajikan semua hidangan itu. ”Kadang ada juga penumpang yang meminta misalnya tingkat kematangan tertentu. Ada juga yang meminta hidangan gluten free. Itu harus bisa kami sajikan. Penumpang executive dan first class itu kan memang dimanjakan dengan service,” tutur pria kelahiran Bandung, 8 Mei 1981 itu.

Dari tiga jenis hidangan yang ditawarkan, Japanese cuisine yang paling merepotkan. Menurutnya, dalam satu porsi ada beberapa jenis sushi yang membutuhkan sentuhan detail. Tanpa asisten yang membantu, Chef Derry mengaku sempat kesulitan. Namun, dengan jam terbang yang makin lama, dia pun sudah makin lihai. Kini memasak di atas pesawat sudah jadi keahliannya. Kendati sudah lihai, dia mengaku masih selalu dibuat deg-degan ketika pesawat mengalami turbulensi.

Sedikit guncangan tidak akan terlalu masalah. Tapi jika guncangannya hebat, kecemasan langsung menyerang. Saat itu juga, dia harus membereskan peralatan untuk kemudian duduk dan mengenakan sabuk pengaman. Jika dari speaker sudah terdengar perintah drai pilot untuk kembali ke tempat duduk, itu artinya turbulensi sudah makin parah.

”Paling sering terjadi itu saat melewati Laut Tiongkok Selatan. Di daerah sana kan ada badai taifun. Jadi turbulensinya lumayan. Jika sudah begitu, semua langsung dibereskan,” ujar lulusan Jurusan Perhotelan Fakultas Manajemen Pariwisata Sekolah Tinggi Pariwisata Trisakti itu.

Memasak di atas pesawat menjadi pengalaman berharga bagi Chef Derry. Selain itu, sebagai air crew, dia juga punya kesempatan untuk melihat dunia dengan lebih luas. Dari satu bulan, hanya 7-8 hari yang dia habiskan di Indonesia. Selebihnya, dia keliling ke beberapa negara. Saat ditemui kemarin pun, dia mengaku baru saja tiba dari Melbourne, Australia. Dan malam harinya dia sudah akan terbang ke Korea Selatan.

Baginya yang menyukai traveling, pekerjaannya sangat menyenangnya. Kesempatan pun tidak pernah dia sia-siakan. Menikmati suasana jalanan dan keramaian di negeri orang selalu menyenangkan. Sebagai seorang chef, dia juga selalu ingin menjajal kuliner setempat. Dengan begitu, pengetahuan akan dunia kuliner pun bertambah.

Saking seringnya “jalan-jalan” ke luar negeri, kemampuan bahasa Chef Derry pun terus meningkat. Saat ini, setidaknya ada tujuh bahasa asing yang dia mengerti. Mulai dari Inggris, Mandarin, Tagalog, Prancis, Belanda, Jepang, hingga Korea. ”Tidak semuanya fasih diucapkan. Tapi saya berusaha belajar percakapan sehari-harinya. Bahasa wajib tetap Inggris,” ungkap juru masak yang pernah bercita-cita menjadi pilot itu.

Dari banyak tempat yang pernah dia kunjungi, kota Osaka di Jepang menjadi favoritnya. Suasana kota yang bersih jadi salah satu alasannya. Penduduk setepatnya pun disebut Chef Derry sangat jujur. Menurutnya, jika ada barang yang tertinggal di taman, tidak akan hilang. Barang tersebut masih berada di tempat yang sama saat ditinggalkan.

Sementara tempat yang sebenarnya paling enggan dia kunjungi adalah Eropa. Menurutnya, penerbangan ke Eropa membutuhkan waktu yang sangat lama dan cukup melelahkan. Belum lagi waktu stay yang cukup panjang hingga 8-9 hari sebelum kembali ke tanah air. (*)

Guru Komputer yang Punya Passion di Dance

*Junko Agus, Atlet Pole Dance Putra Indonesia

Puguh Sujiatmiko/Jawa Pos

Puguh Sujiatmiko/Jawa Pos

Pole dance memang bukan olahraga populer di Indonesia. Meski begitu, Indonesia ternyata mampu menelurkan atlet pole dance yang siap bersaing dengan atlet dari negara-negara lain. Dialah Junko Agus. Dia menjadi satu-satunya atlet pole dance putra Indonesia yang akan berlaga pada ajang Pole Expo International di Las Vegas September nanti.

Tidak pernah terbayangkan sebelumnya oleh Junko kecil apa itu Las Vegas. Apakah itu nama sebuah kota. Nama makanan. Nama orang. Atau bahkan sekadar nama tanpa arti. Apalagi sampai memimpikan untuk tampil sebagai atlet pole dance mewakili Indonesia di sana. Tidak pernah sekali pun.

Yang dia tahu, di tanah kelahirannya Sentebang Kalimantan Barat, tradisi tari-tarian cukup kental. Tidak heran jika pada akhirnya itu mendarah daging dalam tubuh Junko. “Saya sudah suka dansa sejak SD. Saya juga suka performing art. Pole dance memadukan keduanya,” katanya kepada Jawa Pos saat ditemui di kawasan Kemang beberapa waktu lalu.

Saat itu, tarian hanya sekadar hobi bagi Junko. Dia tidak pernah berencana untuk membawanya menjadi sebuah profesi. Karena itu, lulus SMP, Junko hijrah ke ibu kota. Dia melanjutkan ke SMA kemudian mengambil kuliah bidang komputer di salah satu perguruan tinggi swasta. Pada tingkat akhir, Junko meneruskan kuliah di Kanada.

Setelah lulus sekitar 1998-1999, dia kemudian kembali ke Indonesia. Tidak lama, dia berangkat ke Amerika untuk bekerja. Di awal karirnya, Junko bekerja sebagai immigration clearance officer di kapal pesiar. Pekerjaan ini kemudian mempertemukannya kembali dengan dansa. Hobinya semasa kecil.

“Teman-teman kerja saya banyak yang suka dansa. Saya jadi kembali tertarik. Dari situ, saya makin menggilai dansa dan memutuskan berhenti bekerja pada 2004,” tutur dia.

Tabungannya selama bekerja dia gelontorkan untuk membuat sebuah studio. Studio yang mewadahi berbagai aktivitas performing art. Di saat yang sama, dia juga mulai mendalami pole dance dan kembali bekerja. Kali ini bukan di kapal pesiar. Tapi di sebuah sekolah. Bukan mengajar performing art. Tapi mengajar komputer.

Pandangan masyarakat yang masih negatif terhadap pole dance membuat apa yang sudah dimulai Junko harus layu sebelum berkembang. Dia kemudian fokus bekerja. Guru pelajaran komputer untuk anak-anak kelas 1-4 di sebuah SD swasta di Jakarta menjadi profesi baru Junko.

Namun, hal tersebut tidak berlangsung lama. Rasa ketidaknyamanan karena terikat dengan jam kerja membuatnya memilih mundur. Menurutnya, apapun yang dikerjakan dengan setengah hati hasilnya tidak akan maksimal.

Tidak menemukan kenyaman pada profesi barunya sebagai guru membuat Junko menyerah. Dia memutuskan untuk resign dan mencoba merambah ke dunia olahraga. Yakni fitness dan zumba. Body movement seolah sudah menjadi bawaan Junko. Dia begitu menikmati setiap gerakan fitness dan zumba yang dijalaninya.

Keseriusannya itu membawa hasil. Zumba yang dibawanya dari Amerika kini menjadi olahraga yang cukup banyak peminatnya. Seolah mendapat “hidayah”, Junko dipertemukan dengan Yohanna Harso Ong. Perempuan Indonesia yang mempopulerkan pole dance di televisi.

Pada 2012. Junko mengatakan untuk pertama kalinya dia melihat Yohanna di televisi. Dia membawa pole dance menjadi sesuatu yang berkelas. “Pole dance buka striptease. Sejak itu, saya berjanji akan kembali menekuni pole dance. Dan tidak akan menyerah karena apapun,” tutur pria yang sedang mengikuti ajang pencarian bakat itu.

Sejak saat itu, Junko kembali menekuni pole dance. Tidak tanggung-tanggung. Untuk mendapatkan ilmu mengenai pole dance, dia rela terbang jauh ke Amerika. Selama di Amerika, dia belajar di beberapa studio. Body & Pole di New York, SoBe Pole Dance studio di Miami, dan beberapa studio lain di California.

Modal basic gerakan pole dance yang dia dapatkan di negeri Paman Sam terus diimprovisasi oleh Junko. Koreografi spesial pun mulai dipersiakannya untuk tampil di Las Vegas. Rencananya, gerakan dasar pole dance akan dikombinasikan dengan gerakan improvisasi dan sentukan etnik Indonesia.

“Untuk kostum, saya juga sudah menyiapkan kostum tradisional Indonesia. Tapi cutting-nya sedikit dimodifikasi untuk memudahkan saya melakukan gerakan,” cerita dia.

Kendati sudah punya prestasi yang gemilang di bidang pole dance, Junko masih sering mendapat pandangan miring dari orang sekitar. Menurutnya, setiap orang yang mendengarnya menekuni pole dance akan punya reaksi yang sama. Yakni tertawa. Setelah itu mempertanyakan keseriusan Junko seolah itu adalah hal yang tidak serius.

“Mereka masih belum bisa menerima pole dance. Memang masih butuh waktu agar hal itu bisa diterima masyarakat,” ucap dia. (*)

Hadapi Beragam Karakter dan Masalah Setiap Hari

*Jeanette Anandajoo, Fashion Advisor Galeries Lafayette Jakarta

Puguh Sujiatmiko/Jawa Pos

Puguh Sujiatmiko/Jawa Pos

**Paling Susah Pilihkan Lingerie

Istilah pakaian mampu mendongkrak kepercayaan diri seseorang memang benar adanya. Namun, tidak semua orang bisa memilih pakaian yang tepat. Bukannya percaya diri, malah minder yang muncul. Padahal, di kota metropolitan seperti Jakarta ini, kepercayaan diri menjadi modal utama untuk survive. Untuk itulah Jeanette Anandajoo hadir.

Sebagai fashion advisor, dia bertugas untuk membantu seseorang menemukan pakaian yang paling pas dan membuatnya tampil percaya diri. Memberikan advice terkait urusan fashion memang menjadi tugas Jeanette. Fashion memang sudah mengalir dalam darah Jeanette sejak dulu. Profesinya sekarang ini, memungkinkannya untuk mengerjakan hal yang dia sukai sekaligus menerapkan ilmu yang didapatnya selama kuliah di jurusan fashion design.

Ketertarikannya pada bidang fashion sudah ditunjukan Jeanette sejak masih kecil. Sang nenek dan bunda merupakan penjahit andal. Tidak jarang keduanya membuatkan Jeanette kecil baju-baju cantik. Berbeda dengan anak kecil lainnya yang menerima begitu saja baju yang diberikan, Jeanette justru merekues sendiri baju yang sesuai dengan keinginannya.

Dia mengaku baju-baju cantik selalu ada dalam benaknya. Sehingga, saat sang nenek berencana membuatkannya baju, Jeanette langsung meminta ini itu. ”Aku ingin yang seperti ini. Bentuk bajunya harus seperti itu. Ada tambahan ini dan itu. Pokoknya banyak maunya. Bajuku harus selalu cantik,” kata perempuan kelahian Medan, 19 Oktober 1987 itu.

Tidak berhenti sampai di situ. Jeanette juga kerap berulah saat hendak bepergian. Saat hendak pergi, dia harus mengenakan pakaian yang dia inginkan. Sudah sejak kecil, Jeanette sulit diatur mengenai pakaian. Semuanya harus sesuai dengan keinginannya. Termasuk saat hanya akan pergi ke pasar. Tampil cantik dan stylish sudah jadi hal wajib baginya.

Saat itu, sang bunda mengajak Jeanette kecil berbelanja ke Pasar Baru. Udara yang panas membuat ibunya memilihkan baju simple yang tidak akan membuat Jeanette kepanansan dan tidak nyaman. Alih-alih menurut pada sang bunda, Jeanette malah merengek. Dia merengek minta baju yang dikenakannya diganti gaun panjang ala pengantin. Tidak mau ambil pusing dan membuang banyak waktu, ibunya akhirnya mengabulkan permintaannya. Jadilah Jeanette berangkat ke pasar dengan baju pengantin tengah hari bolong.

Saat itu, Jeanette hanya mengikuti keinginan untuk mencapai kepuasannya dalam berpenampilan. Tanpa tahu fashion adalah sebuah komoditas yang menjanjikan. Memasuki SMA, dia mulai tertarik lagi pada dunia fashion. Mengambil jurusan fashion design sempat terlintas dalam benaknya. Keinginannya itu dia ungkapkan pada orang tuanya. Bukannya dukungan, dia malah mendapat penolakan.

Penolakan tersebut membuatnya berpikir banyak hal. Termasuk masa depannya jika mengambil jurusan fashion design di bangku kuliah. ”Bukannya merendahkan. Tapi kebanyakan lulusan fashion design itu malah jadi tukang jahit di butik sendiri. Aku ingin menjadi sesuatu yang lebih dari itu,” ucap dia.

Pemikirannya itu memupuskan niatnya mengambil jurusan fashion design. Dia kemudian mengambil jurusan desain komunikasi visual di sebuah perguruan tinggi di Sydney, Australia. Dunia kreatif memang tidak bisa dipisahkan dari Jeanette. Dia mengaku sebagai orang sangat suka dengan hal-hal kreatif. Bahkan, bagi Jeanette, membungkus kado adalah hal yang sangat menyenangkan.

Tiga tahun menghabiskan waktu di Sydney, dia mengaku masih belum bisa nyambung dengan visi dari jurusan kuliahnya itu. Saat ada tugas menganalisis majalah, bukannya fokus pada tugasnya, Jeanette malah sibuk melihat-lihat halaman fashion. Keinginannya untuk nyemplung ke dunia fashion makin besar. Tidak lama, dia nekat kembali ke tanah air dan mengambil kuliah fashion design di LaSalle Collage.

Di lembaga pendidikan internasional itulah karir fashion Jeanette bemula. Dua tahun menimba ilmu fashion, Jeanette kemudia lulus dan mengawali karir sebagai jurnalis di majalah fashion InStyle. Menjadi jurnalis selama 3,5 tahun, Jeanette sampai pada titik jenuh. Dia ingin mencoba hal baru. Namun, masih di bidang fashion yang menjadi passion-nya sejak dulu.

”Lagi pula, background pendidikanku bukan jurnalistik. Tulisanku juga tidak terlalu wah. Aku ingin mencoba sesuatu yang beda. Kemudian ada tawaran menjadi fashion advisor. Tidak ada salahnya untuk coba dijalani,” jelas dia.

Sebagai fashion advisor, Jeanette harus membantu para pelanggan VIP Galeries Lafayette yang membutuhkan masukan mengenai fashion. Seorang fashion advisor akan mendengarkan permintaan kliennya untuk kemudian diterjemahkan dalam barang-barang fashion yang dibutuhkan. Kendati terdengar sederhana, fashion advisor ternyata bukan pekerjaan yang mudah dan bisa dilakukan siapa saja.

Kemampuan analisis, membaca dan mendalami karakter, mengerti seluk beluk tubuh manusia, kreativitas, dan kesabaran harus dimiliki seorang fashion advisor. Setiap klien, datang dengan masalah dan kebutuhannya masing-masing. Mulai dari yang hanya bingung memilih barang untuk menambah koleksi, menghadiri undangan tertentu, menemukan pakaian yang bisa menutupi kekurangan, meng-upgrade penampilan, hingga membelikan kado.

Klien yang datang akan diminta Jeanette untuk menceritakan tujuannya datang untuk belanja. Sebelumnya, Jeanette juga harus sudah memegang database shopping list klien tersebut selama berbelanja di Galeries Lafayette. Shopping list juga bisa menjadi clue preferensi klien tersebut. Sambil terus menggali informasi, dia juga terus menganalisis karakter si klien. Hal itu dilakukan agar bisa memberikan pilihan yang tepat untuk klien.

Setelah semua data terkumpul, Jeanette akan memberikan pilihan kepada klien untuk ikut berkeliling bersamanya atau menunggu sementara Jeanette memilihkan barang-barang yang mungkin akan disukai oleh kliennya itu. Tidak jarang, barang-barang yang disodorkan Jeanette untuk dijadikan pilihan ditolak begitu saja. Padahal kriterianya sudah sesuai dengan apa yang diinginkan klien.

Menurutnya, tidak sedikit klien yang tidak konsisten. Itu menjadi tantangan lainnya. Pernah satu ketika ada klien yang saat ngobrol mengaku suka dengan barang-barang girlie. Namun, ketika disodorkan, malah tidak mau,” kata perempuan berambut panjang itu.

Penolakan itu tidak membuat Jeanette patah arang. Dia justru makin tertantang untuk bisa menemukan barang yang menjadi impian kliennya. Dia akan merasa puas jika kliennya berhasil menemukan barang yang selama ini diidam-idamkan. Bayangkan saja, klien datang tanpa tahu apa yang sebenarnya mereka inginkan. Jeanette kemudian mencoba menerjemahkannya. Dan akan jadi sangat menyenangkan jika Jeanette berhasil membantu klien tersebut.

Tantangan lain yang diakui Jeanette paling sering dia temukan adalah sulitnya meyakinkan klien. Menurutnya, banyak sekali klien yang tidak percaya diri. Padahal, tampilan fisik mereka mendukung mereka untuk mengenakan barang yang dipilihkan Jeanette. Dia mencontohkan seorang ibu yang memiliki kulit putih merona namun tidak pernah percaya diri mengenakan pakaian berwarna cerah. Klien tersebut hanya menggunakan pakaian berwarna monokrom.

”Kalau tidak hitam, putih, yah abu-abu. Aku sodorkan dia baju pink fuschia. Awalnya dia tidak mau. Namun, setelah mencoba dan melihat sendiri, dia baru sadar penampilannya terlihat lebih baik dan pas dengan baju warna cerah itu,” ujar dia.

Namun, dari tantangan yang ada, Jeanette mengaku membantu ornag memilihkan lingerie sebagai tantangan terberat yang pernah dia hadapi. Bentuk tubuh terutama payudara setiap perempuan yang tidak sama dan perasaan risih klien membuatnya tidak bisa terlalu jauh masuk dalam ranah tersebut. Menurut dia, banyak orang masih merasa risih saat ditanya lebih dalam mengenai kebutuhan lingerie mereka. Itu yang membuat Jeanette agak kesulitan.

Hal itu menjadi penyemangat Jeanette untuk terus menggali ilmu. Browsing mengenai berbagai hal terkait pekerjaannya selalu dia lakukan ketika sedang tidak ada klien. Mulai dari tren terkini, apa saja yang sedang populer, jenis-jenis bentuk badan, warna kulit, dan yang lainnya. Hal tersebut dilakukannya agar bisa selalu membantu kliennya menemukan apa yang mereka cari.

Klien Jeanette kebanyakan berasal dari kalangan profesional dan didominasi oleh perempuan. Kebanyakan mereka datang mencari pakaian untuk bekerja atau menghadiri event tertentu. Meski tidak banyak, kaum ada juga kerap menggunakan jasa Jeanette. Mereka kadang dibuat bingung oleh banyaknya barang yang ada. Saking banyaknya, mereka sampai tidak tahu harus memulai dari mana.

”Tapi, biasanya laki-laki lebih simple dan mudah menerima masukan. Kalau perempuan punya kecenderungan untuk menolak terlebih dahulu. Mereka harus diperlihatkan dulu seperti apa baru bisa menerima,” tutur dia. Kemampuan Jeanette untuk membantu para kliennya membuat mereka datang kembali untuk menggunakan jasanya. (*)

Tinggalkan Laboratorium untuk Menari

*Tom Ibnur, Koreografer Indonesia yang Mendunia

Puguh Sujiatmiko/Jawa Pos

Puguh Sujiatmiko/Jawa Pos

Menjadi seniman sepertinya sudah jadi cita-cita Arison Ibnur sejak kecil. Karirnya di bidang analisis kimia ditinggalkannya untuk memanusiakan diri dengan menjadi seniman. Dia kemudian keluar dari kemapanan untuk mewujudkan mimpi.

Dibandingkan dengan bekerja sebagai kepala laboratorium di PT Semen Padang, menjadi seniman tidak ada apa-apanya. Secara gengsi dan pendapatan tentu saja tidak bisa dibandingkan. Tapi itulah jalan yang dipilih pria yang akrab disapa Tom itu. Pekerjaan yang telah dijalani selama enam tahun pun dia tinggalkan.

Keputusannya itu sempat ditentang kedua orang tuanya. Bagaimana tidak. Tom punya latar belakang pendidikan teknologi industri. Dia mengenyam pendidikan analis kimia. Kemudian dilanjutkan ke akademi teknologi industri. Setelah itu dia merantau ke Bandung untuk kuliah di ITB sampai doktor.

”Setelah itu saya ambil sekolah di IKJ. Mengulang dari S1. Karena ingin jadi seniman sejati. Ibu dan bapak saya marah,” katanya kepada Jawa Pos saat ditemui di Galeri Indonesia Kaya beberapa waktu lalu.

Kecintaan Tom pada seni tari sepertinya sudah mendarah daging. Di tanah kelahirannya Minangkabau, seni tari sudah menjadi bagian dari kehidupan sehari-hari. Berawal dari pencak silat, Tom kecil mulai mengenal seni tari. Sejak umur 5 tahun, pria kelahiran Padang, 15 Mei 1952 itu sudah akrab dengan tari.

Lingkungan tempat tinggalnya memang mendukungnya untuk menyukai seni tari. Menurutnya, selain belajar di sekolah, dia pun mendapat pelajaran menari di kampung dan sanggar dari guru tari, musik, dan silat. Gerakan tari yang dinamis selalu berhasil membuat hatinya senang.

”Sejak umur 5 tahun itu, hingga tahun ini hampir 62 tahun, saya tidak pernah absen menari. Berarti sudah 57 tahun. Dan saya masih ingin terus menari,” ujar pengajar utama Fakultas Seni Pertunjukan Institut Kesenian Jakarta (IKJ) itu.

Bagi Tom, menari bukan sekadar gerakan tubuh yang dinamis. Menari baginya memiliki filosofi yang mendalam. Adat istiadat, etika, dan estetika melebur menjadi satu dalam tarian. Selain itu, tarian juga dinilai Tom sebagai sesuatu yang bersifat universal. Hal itu juga yang membuatnya begitu mudah mengenalkan tarian tradisional Indonesia ke masyarakat dunia.

Tidak heran sebagian besar waktunya di habiskan di luar negeri untuk menari. Sebut saja Singapura, Malaysia, Kanada, Tiongkok, Thailand, negara-negara Eropa, Amerika, Afrika, dan Timur Tengah. Negar-negara tersebut pernah menjadi saksi pertunjukan spektakuler Tom.

Dia tercatat pernah menggelar pentas di American Dance Festival (1984), Singapore Arts Festival (1984), American Dance Festival (1986), Singapore Arts Festival (1988), Melbourne International Festival (1990), Indonesian Dance Festival (1992), Festival Zapin Nusantara (1998), Singapore Arts Festival (2001), Festival Kesenian Melayu Sedunia di Malaysia (2001), Singapore Zapin Festival (2002), serta International Folk Festival di Perancis, Spanyol, Austria, Italia, Korea, Jepang, dan Amerika.

Kendati berasal dari tanah Minang, dia juga memperkenalkan tarian tradisional Indonesia lainnya. Beragam tarian tradisional dari Sabang sampai Marauke dia kuasai. Tidak main-main. Dia mengaku belajar langsung pada ahlinya. Sejak umur 11 tahun dia sudah mulai berkeliling. Dimulai dengan daerah-daerah di Sumatra. Kemudian ke Jakarta, sunda, dan seluruh Indonesia.

”Jalan terus. Rasa-rasanya, tidak ada provinsi di Indonesia yang belum saya kunjungi. Di daerah itu saya cari siapa yang terbaik. Belajar kan harus cari yang terbaik,” tutur ayah tiga anak itu.

Tom tidak tampil sendirian di luar negeri. Tidak jarang dia mengajak beberapa seniman profesional dari sanggar. Dia juga selalu memberi kesempatan pada seniman dari kampung untuk ikut menari di luar negeri bersamanya. Menari ternyata bukan satu-satunya yang dia lakukan di luar negeri sana. Dia pun kerap menggelar seminar, diskusi, hingga kolaborasi dengan seniman setempat.

Dia juga terbilang sering membawa serta kuliner nusantara dalam pertunjukan tarinya. Tom mengaku sering memasak untuk para penonton pertunjukannya di luar negeri. Dia tidak keberatan membawa rempah-rempah dari Indonesia untuk dimasak di sana. Menurutnya, mengenalkan budaya Indonesia itu harus total. (*)

Niagara Mini di Tatar Sunda

20130404andra_malela (6)

*Kisah Setahun Lalu

Bermodalkan kenekatan dan sedikit uang, saya dan empat orang teman memutuskan untuk menjelajahi daerah Cililin, Kabupaten Bandung Barat. Konon daerah itu punya banyak tempat yang bisa dieksplorasi. Salah satu tempat yang kami nilai menarik untuk dijelajahi adalah Curug Malela.

Tempat ini memang sudah lama saya incar. Seorang teman yang pernah ke sana bercerita dengan semangat tentang air terjun yang digadang-gadang sebagai Niagara Mini itu. Tidak cuma bercerita, ia pun memamerkan hasil jepretannya. Makin lah saya penasaran dengan curug satu itu.

Memasuki jalan menuju Curug Malela, kami dihadapkan pada medan jalan yang lumayan membuat duduk tidak nyaman dan kepala terombang-ambing kiri kanan alias bergelombang. Jalanan tak rata lengkap dengan genangan air cukup dalam di beberapa bagian itu makin sempurna dengan rute jalan tanjakan serta turunan.

Setelah berkendara sejauh 80 kilometer dari pusat Kota Bandung, sampailah kami di kawasan curug tersebut. Jalan yang makin menyempit dan tidak rata membuat mobil yang kami tumpangi harus parkir agak jauh dari pintu masuk curug.

20130404andra_malela (10)

Berjalan setidaknya 100 meter dari tempat parkir mobil, kami tiba di sebuah area dimana terdapat warung dan panggung. Area itu merupakan pintu masuk menuju Curug Malela. Panggung yang berdiri kokoh di area itu ternyata merupakan tempat latihan silat. Silat inilah yang konon punya kaitan yang erat dengan curug selebar 50 meter itu.

Menurut Aep Ajaludin (51), pengelola Curug Malela, nama Malela itu diambil dari nama pendiri perguruan silat. “Namanya Haji Malela. Perguruan silat itu kini sudah tidak ada. Tapi sekarang ini mulai saya adakan kembali,” ujar Aep dalam bahasa Indonesia yang bercampur dengan bahasa Sunda.

Setelah berjalan setidaknya 30 menit menuruni tangga serta melewati sawah, saya dan teman-teman akhirnya sampai di curug yang sudah membuat saya penasaran setengah mati. Derasnya jatuhan air dari atas menyiprat kemana-mana. Saat itu air yang mengalir terlihat coklat.

Melihat keindahan air terjun itu, dua teman saya yang memang berprofesi sebagai fotografer langsung mengambil kamera, lensa, dan tripod untuk bisa segera mengabadikan aliran air deras itu dalam jepretan kamera masing-masing. Saya pun tidak mau ketinggalan. Kamera poket yang sudah tergantung di leher sejak tiba pun saya gunakan untuk jeprat-jepret asal.

Ingin memotret lebih dekat, saya nekat menyeberangi sungai yang sedang deras itu. Dari batu ke batu saya melangkah sampai akhirnya berhasil tiba di batu besar di tengah sungai. Segalanya terlihat lebih indah dari sana.

20130404andra_malela (13)

Puas berfoto, saya berusaha mati-matian untuk kembali menyeberang. Kali ini tak berhasil. Dua kali saya terjatuh dan terbawa arus sungai. Untungnya tidak jauh. Tapi karena itu saya harus merelakan kamera poket saya mati untuk selama-lamanya.

Malela ternyata bukan satu-satunya curug yang berada di aliran Sungai Cidadap itu. Entah pengetahuan saya yang memang kurang atau curug lainnya yang memang tidak terkenal. Yang jelas, informasi itu baru saya tahu dari Pak Aep. Ia kemudian menjelaskan curug lain yang ada di kawasan itu.

“Sebenarnya ada tujuh curug. Malela ini adalah curug yang paling atas. Ada enam curug lagi ke hilir sana, yaitu Curug Katumiri, Curug Cimanglid, Curug Sumpel, Curug Ngebul, Curug Cikadu, dan Curug Pameungpeuk,” jelas Aep. 

Masing-masing curug ternyata punya karakteristik tersendiri. Curug Malela, ujarnya, punya lima jalur air terjun. “Curug Cimanglid punya gua di tengahnya, Curug Sumpel berbentuk seperti gergaji dan memiliki gua walet, Curug Ngebul tinggi ramping, Curug Cikadu dihuni banyak biawak dan monyet, Curug Pameungpeuk dihuni banyak ikan nila, soro, dan udang,” tuturnya panjang lebar.

20130404andra_malela

Menurut Aep, menikmati keindahan tiap-tiap curug itu bisa dilakukan seharian. Dari pagi hingga sore. Tapi khusus yang menyukai kemping, bisa mencoba mendirikan tenda di area situ. “Asalkan izin dulu. Nanti saya antar ke juru kuncinya agak semuanya aman,” ungkapnya.

Juru kunci memang jadi penting karena konon area curug ini punya daya magis yang kuat. Tak aneh jika ternyata banyak orang yang datang berkunjung ke sini dengan maksud berziarah. “Ada banya aja yang datang. Dari Jakarta, Bandung, Surabaya,” kata Aep.

Karena dianggap mistis, beberapa ada beberapa pantangan yang sebaiknya jangan Anda langgar. Yang pertama adalah tidak boleh berbicara sompral. Berbicara sombong dan berkata kasar jangan sampai dilakukan. Hal itu sempat saya alami sendiri.

Saat itu seorang teman yang bernama Dicky berkata ingin medan yang lebih menantang agar bisa mengotori mobil 4×4-nya. Ketika akan pergi meninggalkan area curug hujan turun dan mulai deras sampai membuat jalanan yang didominasi tanah merah itu basah, berlumpur, dan sulit dilalui.

Saat mencoba menanjak, mobil milik Dicky yang kami tumpangi jadi tidak bersahabat. Ban slip di tepi jalan berhasil membuat saraf kami menegang. Usaha maksimal sudah dilakukan Dicky. Tapi tetap tidak berhasil. Sampai akhirnya kami meminta bantuan warga untuk menarik mobil itu dengan tambang. Setelah itu, barulah kami bisa meneruskan perjalanan dengan kondisi mobil penuh lumpur.

Beranjak menjauh dari lokasi curug, ban mobil belakang yang tak bisa berfungsi mulai berfungsi kembali. Hal tersebut sontak membuat saya teringat akan kata-kata Pak Aep yang melarang pengunjung untuk berbicara sompral.

20130404andra_malela (1)

Pengalaman pribadi saya yang satu ini sekadar info. Bukan untuk diikuti. Lebih baik cari aman dengan tidak melanggar pantangan yang ada.

Selain keindahan alam dan hawa magis yang kuat, area ini juga ternyata merupakan penghasil madu hutan dan gula aren berkualitas baik. Dua komoditas itu bisa jadi oleh-oleh yang pas untuk orang rumah. Madu hutan berjenis nyiruan itu ditawarkan dengan harga Rp 100 ribu per kilogramnya. Sedangkan gula aren ditawarkan dengan harga Rp 6 ribu per gandulnya.

Satu lagi yang bisa jadi oleh-oleh khas dari tempat ini. Sereh wangi. Minyak yang terbuat dari hasil penyulingan daun serai wangi itu cocok untuk dijadikan minya pijat dan bisa juga untuk menghilangkan gatal-gatal. Minyak serai ini dihargai Rp 160 ribu per kilogramnya. Aroma serta kehangatannya menjadi ciri khas dari minyak ini.

Tidak ada tiket resmi untuk bisa masuk ke area ini. Tapi sebaiknya Anda memberi seikhlasnya saja itung-itung untuk sedekah. Tidak rugi kan?